Entrepeneurship
Pembicara : Buntoro
Entrepeneur merupakan persiapan (suatu cita-cita yang
dipersiapkan) untuk masa depan dan mengeksekusi pada waktunya yang benar serta
tepat.
Pada umumnya entrepeneur dibagi tiga, yakni:
Entrepeneur cita-cita: persiapannya selalu dikerjakan /
memiliki persiapan yang matang
Entrepeneur
oportunis: entrepeneur yang menunggu peluang tiba, bukan berinisiatif mencoba
Real
entrepeneur: entrepeneur yang mampu memandang masa depan dan mengeksekusinya
Adapun
fokus seorang entrepeneur bukanlah pada pemasukan berupa uangnya yang
diperhatikan, melainkan hal-hal baik (the
good) yang dapat dirasakan oleh sekitarnya secara nyata. Karena itulah, modal seorang entrepeneur hanyalah dirinya sendiri dengan
mulai dari ‘penjualan’ dirinya terlebih dahulu.
Pengusaha Berbasis IPTEK
Secara mendasar, setiap bisnis berbasis pengetahuan:
Ilmu
Pengetahuan (knowledge) à teknologi (technology) à industri (industry) à Business à
ilmu pengetahuan
Dengan adanya modal ilmu pengetahuan maka dapat
diciptakan teknologi yang terus mengalami perkembangan dengan teknologi itu
sendiri merupakan penggunaan praktis dari suatu pengetahuan. Kemudian teknologi
tersebut ditransformasikan menjadi suatu industri besar yang pada kelanjutannya
sudah menjadi suatu bisnis tersendiri lagi. Pada akhirnya dasar bisnis tersebut
akan menjadi landasan ilmu pengetahuannya yang lebih maju lagi.
Dalam praktiknya, entrepeneur sangat berbeda dengan
manajemen. Entrepeneur tidak membutuhkan manajemen untuk kelangsungan kegiatannya,
ataupun manajer, sampai dengan ia mulai tidak bisa menangani semua urusannya
tersebut lagi. Di lain sisi, manajemen berperan sebagai ilmu untuk menolong
entrepeneur.
Keberhasilan seorang entrepeneur diukur dari
parameternya, yakni prestasinya berupa karya-karya yang sudah dihasilkannya.
Dalam hal ini dibutuhkan konsistensi dari entrepeneur itu sendiri.
Jika dilihat dari pola kerjanya, entrepeneur tampak
bersifat kapitalis sedangkan entrepeneur sendiri memiliki peran yang sangat
penting di masyarakat, yaitu menciptakan lapangan kerja, membangun masyarakat,
daerah, dan lain-lain. Pada dasarnya, entrepeneur memang memiliki sisi
kapitalisme, atau dengan kata lain entrepeneur saling beririsan dengan
kapitalisme dengan tuntutan masyarakatnya yaitu jiwa sosial entrepeneur.
Berkenaan dengan hal tersebut, seorang entrepeneur harus mampu menciptakan
kebaikan untuk mayoritas.
Dalam perjalanan karirnya, dibutuhkan akurasi
atau strategi yang tepat untuk mencapai kesuksesan yang juga dipadukan dengan
pengalaman yang bersifat akumulatif karena semuanya itu merupakan proses
pembelajaran.